Selasa, 23 April 2013

Bank Sampah


Bank sampah adalah tempat menggumpulkan sampah kering yang dapat di daur ulang lagi. Bank sampah tersebut telah dilaksanakan kurang lebih selama 1 tahun. Sampah tersebut diperoleh dari setiap sampah di kelas 7 dan 8. Para siswa dapat mengumpulkan sampah tersebut setiap hari pada saat jam istirahat pertama. Setiap siswa yang menyetor sampah di bank sampah akan mendapatkan buku tabungan khusus yang telah dibagikan.
Setiap seminggu sekali yaitu setiap hari Sabtu, sampah tersebut diambil oleh pengepul yang akan datang ke sekolah untuk dijual kembali. Sampah yang di terima oleh pengepul antara lain : kardus, botol bekas, kertas, bekas minuman, dll. Selain sampah yang terdapat di sekolah, siswa juga dapat mengambil sampah selain di sekolah, seperti sampah dari lingkungan rumah. Hasil penjualan sampah yang telah diberikan pengepul masih akan digunakan untuk kegiatan Adiwiyata dan kemudian seterusnya mungkin uang hasil penjualan akan di terima oleh masing – masing kelas yang menyetor.
Berikut tujuan dan keuntungan dari bank sampah : mengurangi sampah kering yang ada di sekolah, memanfaatkan sampah menjadi kerajinan tangan, mendapatkan uang dari pengepul, Mengurangi sampah yang ada di sekitar lingkungan.

Kompos dan Pengomposan


PENGOMPOSAN
1.     PENGERTIAN
Kompos merupakan humus yang prosesnya diperpecat, dengan pengaturan bahan-bahan kompos sehingga kandungan hara yang dikandung pun lebih tinggi di banding dengan humus. Sedangkan pengomposan itu sendiri adalah penguraian bahan organik oleh sejumlah besar mikroorganisme dalam lingkungan yang hangat, basah dan berudara dengan hasil akhir berupa humus.Keunggulan kompos dibandingkan dengan pupuk kimia adalah kompos yang tidak merusak tanah, tidak menurunkan pH tanah, dan kompos menggemburkan tanah. Kandungan haranya menetap pada tanah, tidak terlarut air sehingga dosis penggunaan pada masa musim penanaman kedepan kemungkinan besar dapat diturunkan tergantung pada sifat tanah dan pengisapan hara oleh tanaman. Pengapuran pada tanah hanya pada tanah yang mempunyai pH yang sangat masam, malah pengapuran tidak diperlukan apabila kadar penggunaan kompos sangat besar. Dikarenakan sifat kompos yang netral dan cenderung untuk menjadi basa (tergantung bahan baku yang digunakan), sehingga kompos dapat sangat efektif dalam menetralkan pH tanahSedangkan kandungan haranya yang lebih rendah dibanding dengan pupuk kimia, sehingga dosis penggunaannya lebih banyak dibandingkan dengan pupuk kimia merupakan kelemahan dari pupuk kompos. Akan tetapi hal ini ditanggulangi dengan murahnya biaya produksi pertanian bila penyuburan lahan dan nutrisi tanaman menggunakan kompos.
Selama proses pembuatan kompos suhu yang didapat adalah pada kisaran 55˚C-65˚C, sehingga dapat mematikan gulma dan patogen yang ada di dalam bahan-bahan kompos. Maka kompos yang selama pembuatannya menggunakan metode yang benar tidak mengandung gulma dan penyakit pada tanaman.
Kompos menetap dalam tanah tidak terbawa air dikarenakan sifat kompos yang tidak terlarut dalam air dimana akar-akar tanaman menyerap hara pada koloid-koloid yang terbentuk selama proses pengomposan. Sehingga kandungan hara yang terkandung dalam kompos dapat menetap dalam tanah sampai bertahun-tahun tergantung dari penghisapan hara oleh tanaman.
Tanah bila menggunakan kompos semakin lama akan semakin gembur, subur dan kaya akan mikroba yang berguna bagi tanah itu sendiri, faktor kegemburan dan kesuburan tanah merupakan faktor penting dalam kontinuitas pemakaian lahan, intensifikasi tanaman menjadi baik karena tidak ada dampak negatif dari penggunaan kompos
Bahan organik alami yang jumlahnya kira-kira sepertiga dari seluruh bahan organik tumbuh –tumbuhan yang ada di dunia ini akan membentuk kira-kira 60% dari seluruh bahan apabila di daur ulang. Kalau di biarkan akan menimbulkan jumlah yang sangat besar. Untuk meningkatkan produktivitasnya perlu adanya usaha untuk mendaur ulang, salah satu caranya adalah dengan pengomposan.
Pengomposan adalah proses pengubahan bahan limbah organik oleh jasad renik secara konstan oleh aktivitas dari suatu suksesi berbagai jenis jasad renik, yang masing-masing memiliki kondisi tertentu dengan waktu yang relatif terbatas. Bahan berubah menjadi kompos yang mempunyai perbandingan C/N yang rendah. Jadi kompos adalah produk hasil fermentasi bahan-bahan organik oleh sejumlah jasad renik dalam lingkungan yang hangat, basah dan berudara dengan hasil akhir berupa humus, maka kompos sebagai salah satu pupuk alam akan merupakan bahan substitusi yang penting terhadap pupuk kandang dan pupuk hijau. Selain itu pupuk kandang di beberapa daerah, khususnya di kawasan lahan kering sulit di dapat, karena masih kurangnya petani yang memelihara ternak. Terlebih lagi adanya kenyataan bahwa penanaman pupuk hijau semakin langka dan semakin meningkatnya pemakaian pupuk buatan, terutama lahan yang di usahakan secara intensif, seperti sayur-sayuran dan buah-buahan.
Faktor-faktor yang penting dalam pembuatan kompos adalah perbandingan karbon-nitrogen, ukuran partikel bahan, macam/jenis campuran bahan, kelembaban, aerasi, suhu, macam dan kemampuan jasad renik yang terlibat, penggunaan inokulan, penambahan bahan fosfat dan destruksi dari jasad renik patogen.
Diketahui ada lebih kurang 2.000 bakteri dan 50 jenis jamur yang terkait dengan proses pengomposan. Jamur mempunyai peranan yang sangat penting dalam pemecahan selulosa (bahan organik alami yang paling sulit di degridasi ) dan di kelompokkan berdasarkan toleransinya terhadap suhu. Ada kelompok thermophilik (40 – 75 0C), mesophilik (20 - 40 0C) dan ada juga yang termasuk dalam kelompok psychrophilik (dibawah 20 0C). Adanya jasad renik perombak selulosa berkaitan erat dengan keberadaan bahan organik alami yang sulit didegradasi di alam. Dengan demikian jasad renik perombak ini merupakan salah satu faktor keseimbangan di alam dan mempunyai kontribusi dalam kelanjutan kehidupan dibumi ini.
Pengujian kapang selulotik di laboratorium dilakukan dengan maksud untuk mengetahui kemampuan masing-masing kapang dalam merombak selulosa, sehingga isolat-isolat murni dapat dipisahkan dan dipilah-pilahkan sesuai dengan tingkat kemampuannya, sehingga akan di dapat inokulan yang mengandung jenis jasad renik yang mempunyai toleransi optimal terhadap perubahan lingkungan seperti tersebut di atas.
Seperti diketahui penambahan inokulan pada pembuatan kompos adalah bagian dari usaha untuk mempercepat proses pengomposan, karena sesungguhnya pada bahan material pembentuk kompos sendiri sudah mengandung banyak jasad renik khususnya yang berperan dalam perombakan zat kimia lainnya.
Salah satu cara untuk mendapatkan kompos secara tepat adalah dengan menggunakan aktivator berupa inokulan kapang unggul yang berperan memecah selulosa dalam proses pembuatan kompos, agar waktu pembuatan kompos lebih di perpendek.
Proses pembuatan komposnya sendiri harus berpegang pada sistem kerjasama beberapa mikroba yang mempunyai sifat-sifat fisiologis yang beragam dalam suatu tatanan tertentu.
Kegunaan kompos sendiri yaitu :
1.     sebagai penyubur di lahan pertanian atau perkebunan
2.     dapat memperbaiki struktur tekstur tanah
3.     memberikan kandungan unsur hara yang diperlukan tanaman.
4.     dapat digunakan dalam usaha reklamasi lahan bekas galian tambang, atau penyubur di daerah rawa-rawa, peningkatan kadar pH di daerah lahan asam.
Seperti diketahui di daerah tropik kandungan bahan organik di dalam tanah diperkirakan hanya 1% saja. Di lahan yang di tanami, kandungan organik lahan tersebut semakin lama semakin berkurang karena terjadi biodegradasi secara terus menerus. Untuk mengatasinya paling tidak setahun sekali lahan tersebut perlu diberi tambahan bahan organik seperti kompos.
Aktivitas mikrobiologi dalam tanah terjadi bukan saja oleh jasad renik yang tumbuh dan berkembang dalam kompos tetapi kehadirannya dapat menstimulir jasad renik yang telah ada dalam tanah. Pemberian kompos dapat menstimulir aktivitas amonifikasi, nitrifikasi, fiksasi nitrogen dan fosforilasasi, yang disebabkan oleh kerja berbagai jasad renik dalam tanah.
Oleh karena itu, selain berguna dalam penyuburan tanah khususnya di lahan kering, juga dapat mengurangi penggunaan pupuk anorganik bagi para petani yang harganya relatif mahal.
1.     B. KOMPOS KEUNGGULAN DAN KELEMAHANNYA
Keunggulan Kompos
1.     1. Kompos Tidak Larut Dalam Air
Dampak positif dari karakter ini adalah antara lain terhadap effisiensi penggunaan kompos pada lahan pertanaman. Seperti diketahui kelarutan pupuk anorganik maupun organik yang berbentuk kotoran ternak sangat tinggi. Setiap tanaman disiram atau tersiram air hujan atau banjir, maka hara yang terkandung dalam tanah akan berkurang atau bahkan habis tergerus air, sehingga perlu pemupukan ulang. Padahal kompos selalu ada di sekitar tanaman, karena tidak larut.
1.     2. Kompos Menahan Air Sampai 60%
Kandungan air pada kompos akan menimbulkan dampak positif seperti berikut : Karena kompos tidak lain adalah humus, maka lahan yang mengandung kompos akan menahan air sampai sebanyak 60%, sehingga tanaman masih dapat menggunakannya sampai musim kemarau.
1.     3. Kompos Dapat Membentuk Tekstur dan Struktur Tanah Yang Kondusif Bagi Pertumbuhan Tanaman.
Tekstur tanah akan menjadi lembut dan gembur, tidak padat dan tidak akan menjadi belah-belah pada musim kemarau seperti terjadi pada lahan yang dipupuk dengan pupuk anorganik. Struktur tanah akan tertata dengan baik seiring dengan keluar masuknya unsur hara ke dalam tanah.
1.     4. Kandungan Hara Kompos Dapat Disesuaikan Dengan Kebutuhan.
Karena kandungan hara pada kompos terbentuk dari bahan dasar pembuatan kompos, maka pengaturannya dapat dilakukan pada awal pembuatan kompos. Penggunaan berbagai jenis bahan limbah yang mengandung berbagai jenis bahan lumbah yang mengandung berbagai kandungan hara dapat diformulasikan untuk kepentingan tanah yang akan kita pupuk.
1.     5. Kompos Bebas Dari Sumber Penyakit.
Karena pembuatan kompos dilakukan dengan berbagai jenis mikroba yang bekerja secara suksesi karena pengaruh perubahan energi panas dan pH. Terjadi perubahan suhu dan pH secara alami selama proses pengomposan, maka kompos terbentuk secara sempurna oleh kerja berbagai mikroba tersebut. Terbebasnya kompos dari penyakit, karena suatu saat tumpukan kompos akan mencapai suhu 60-70ºC. Seperti diketahui semua mikroba penyakit tidak tahan pada suhu diatas 60ºC.
1.     6. Kompos Merupakan Bahan Dasar Bagi Pakan Ternak Atau Pakan Ikan.
Konsep “longyam” (kolam dibawah kandang ayam) yang memanfaatkan kotoran ayam untuk pakan ikan akan terbebas dari penyakit kalau kotoran ayamnya sudah menjadi kompos. Kompos akan menjadi subsitusi bagi pakan ternak karena kandungannya dapat diformulasikan.
1.     7. Kompos Sebagai Media Pertumbuhan Plankton.
Pertumbuhan plankton akan dipercepat dengan kehadiran kompos. Ini akan membantu para peternak ikan, baik kolam maupun tambak.
1.     8. Kompos Dapat Dijadikan Sumber Pendapatan Petani.
Apabila limbah pertanian dan peternakan dapat mencukupi kebutuhan petani untuk usaha pertanian, maka limbah lain dapat dijadikan kompos untuk dijual. Limbah rumah tangga, limbah pabrik, limbah industri dsb yang terbuan percuma merupakan bahan baku industri pertanian dan dapat dijadikan sumber penghasilan.
1.     9. Kompos Sebagai Bahan Industri Pot dan Media Tumbuh Anggrek.
Pot yang terbuat dari kompos dan lepengan kompos pengganti kayu pakis untuk media tumbuh anggrek merupakan suatu industri baru dan dapat menghasilkan uang. Pot yang berfungsi sebagai pupuk sangatlah menarik bagi mereka yang bergerak di bidang perbungaan, hotikultura dan pembibitan.
10. Kompos Sebagai Media Tanam Di Tanah Berpasir dan Bebatuan.
Hamparan kompos setebal 5-10 cm dapat dijadikan tanah gersang bebatuan, berpasir, bekas galian, lahan marginal dsb, menjadi lahan hijau sepanjang tahun.
11. Kompos Sebagai Embung Air.
Terdapatnya sumber mata air jernih di pegunungan, akibat dari masih tersedianya humus di hutan pegunungan. Embung yang ditutupi kompos dan ditumbuhi tanaman akan menyimpan air yang banyak, baik pada komposnya sendiri maupun akar tumbuhan yang berada di sekitar kompos.
12. Kompos Dapat Mencegah Erosi.
Di lahan yang konturnya miring penggunaan kompos selain akan menahan air juga mencegah erosi, banjir dan longsor yang berkepanjangan.
13. Kompos Sebagai Pengganti Irigasi.
Pada kondisi tropis-kering, air merupakan faktor pembatas untuk pertumbuhan tanaman. Dalam kondisi ini ada dua pilihan pemanfaatan air, dapat digunakan untuk irigasi atau untuk pembuatan kompos.
Produksi 1.000 Kg kompos memerlukan air sebanyak 2.500 liter. Apabila lahan diberi kompos 25 ton/ha, maka akan memerlukan air sebanyak 62.500 liter setra dengan irigasi 6,25 mm
Dari analisis dapat dinyatakan bahwa pembuatan kompos 25 ton/ha lebih bermanfaat dibanding dengan jika digunakannya irigasi.
14. Kompos Dapat Dibuat Dari Semua Bahan Organik.
Limbah organik rumah tangga berupa : Kulit sayur, kulit buah, kulit telur, daun the, bubuk kopi, potongan ikan, daging, kertas, abu dsb. Limbah organik kebun, tanaman, limbah ternak, limbah hutan, sungai, laut limbah perkotaan, agro industri.
15. Industri Kompos Yang Dapat Menyerap Tenaga Kerja.
Kompos yang dikembangkan oleh PBB tahun 1967 di India, Vietnam, Cina dan Korea khusus untuk pedesaan dapat menyerap tenaga kerja. Pembuatan kompos secara modern dapat dilakukan dengan kombinasi sistem pedesaan dan ditambah dengan mekanisasi pada proses-proses lainnya. Penggunaan mesin atau komputer pada proses degradasi mikroba akan berpengaruh pada suksesi mikroba oleh pengaruh perubahan suhu dan pH pada kondisi aerobik. Masih banyak lahan yang belum terdegradasi paa akhir masa pengomposan walaupun sudah menggunakan komputer untuk menjalankannya.
Kelemahan Kompos
Volume yang besar menyebabkan besarnya daya angkut, kelemahan ini dapat diatas dengan mengurangi kandungan air dalam kompos sampai dibawah 5 persen. Industri kompos dapat menggunakan kompos dengan kandungan air yang sedikit dan dapat dibuat dalam bentuk tablet atau pelet.
Ciri-Ciri Kompos
1.     1. Kompos matang.
1.     Tidak berbau
2.     Berwarna coklat kehitam-hitaman.
3.     Tidak larut dalam air, karena kompos berbentuk koloid.
1.     2. Test Kematangan Kompos.
1.     Sediakan air bersih dalam suatu wadah yang transparan.
2.     Masukan sedikit kompos kedalamnya dan dikocok merata.
3.     Biarkan beberapa saat.
Apabila dalam beberapa menit air dalam gelas jernih kembali, maka kompos tersebut sudah matang. Apabila tetap keruh, maka kompos belum terbentuk, terhadap kompos ini diperlukan perlakuan ulang.
1.     RINGKASAN MENGENAI KOMPOS DAN PENGOMPOSAN.
1.     Pengomposan : penguraian bahan organik oleh sejumlah besar mikroorganisme dalam lingkungan yang hangat, basah dan berudara dengan hasil akhir berupa humus.
2.     Mikroorganisme : anggota paling kecil dan paling sederhana dari dunia tanaman dan hewan
3.     Mikroorganisme mengambil air dan oksigen dari udara dan makanan dari bahan organik ® melepaskan karbon dioksida, air dan energi ® berkembang biak ® mati.
Sebagian energi yang dilepaskan tersebut, digunakan untuk pertumbuhan dan gerakan, sisanya dibebaskan sebagai panas. Akibatnya setumpuk bahan kompos melewati tahap-tahap penghangatan, suhu puncak, pendinginan dan pematangan.
1.     Bahan limbah biasanya mengandung mikroorganisme yang mampu melakukan proses pengomposan.
2.     Selain oksigen dari udara dan air, mikroorganisme memerlukan pasokan makanan yang mengandung karbon dan unsur hara seperti nitrogen, fosfor dan kalium untuk pertumbuhan dan reproduksi. Kebutuhan ini tersedia dalam bahan limbah.
3.     Penguraian bahan organik pada saat pengomposan merupakan situasi yang terus berubah, suhu, pH dan ketersediaan makanan yang bervariasi.
4.     Pada saat pengomposan spesies organisme dan jumlahnya juga berubah.
5.     Faktor-faktor yang penting dalam pembuatan kompos adalah ukuran partikel bahan, perbandingan C/N, kelembaban, aerasi, suhu, macam atau jenis campuran bahan, macam dan kemampuan jasad renik yang terlibat.
6.     Semakin kecil ukuran partikel bahan organik, semakin besar pula luas permukaan yang tersedia untuk dikerjakan oleh mikroorganisme. Partikel yang amat kecil mengumpul dengan ketat sehingga ruang antara partikel menjadi kecil dan sempit, ini mencegah gerakan udara kedalam tumpukan kompos dan gerakan karbondioksida keluar tumpukan.
7.     Jika ukuran partikel amat besar, luas permukaan untuk operasi amat kurang, reaksi kemudian akan berjalan lambat atau bahkan terhenti sama sekali.
8.     Nitrogen merupakan unsur hara yang paling penting, jika tersedia cukup nitrogen dalam bahan organik awal, kebanyakan unsur hara yang lainnya akan tersedia pula dalam jumlah yang cukup.
9.     Perbandingan C/N dalam campuran pertama berkisar antara 25 – 35. Jika perbandingan jauh lebih tinggi, prosesnya akan memakan waktu yang lama sebelum karbon dioksidasi menjadi karbondioksida. Jika lebih kecil nitrogen yang merupakan komponen penting dari kompos akhir akan dibebaskan sebagai amonia.
10.                        Cara yang paling sederhana untuk menyesuaikan perbandingan C/N adalah dengan mencampur berbagai bahan dengan kadar nitrogen tinggi dan karbon rendah.
11.                        Nitrogen juga dapat ditambahkan dalam bentuk pupuk organik (makanan, tulang, tanduk, kuku, ampas minyak dan darah kering) atau pupuk anorganik (urea dan amonium nitrat).
12.                        Fosfor merupakan unsur hara yang kurang penting dalam pengompoasan, tapi kadang sengaja ditambahkan. Hilangnya nitrogen sebagai amonia dari tumpukan kompos dapat dikurangi sebagian dengan penambahan bahan yang mengandung fosfor. Fosfat batu diubah dari bentuk tidak larut air menjadi bentuk yang lebih dapat digunakan untuk tanaman.
13.                        Untuk memaksimalkan kandungan unsur hara dari kompos yang dihasilkan diperlukan pengurangan peluruhan berat dari tumpukan dengan melindunginya dari hujan deras dan kepenuhan air.
14.                        Pada kandungan air dibawah 30%, reaksi biologis dalam tumpukan kompos menjadi lambat. Pada kadar air yang terlalu tinggi ruang antara partikel dari bahan menjadi penuh air sehingga mencegah gerakan udara dalam tumpukan.
15.                        Kandunga air optimum dari bahan kompos adalah 50 – 60%, tergantung dari kekuatan basah struktural bahan.
16.                        Jumlah udara yang cukup kesemua bagian tumpukan kompos diperlukan untuk memasok oksigen pada organisme dan mengeluarkan karbondioksida yang dihasilkan.
17.                        Tidak adanya udara (anaerobik) akan menimbulkan perkembangbiakan berbagai macam organisme yang menyebabkan pengawetan keasaman atau pembusukan tumpukan yang menimbulkan bau busuk.
18.                        Aerasi diperoleh melalui gerakan alami dari udara ke tumpukan dengan membolak-balikan bahan secara berkala.
19.                        Ketika bahan organik dikumpulkan menjadi satu untuk pengomposan sebagian energi yang dilepaskan oleh penguraian bahan dibebaskan sebagai panas, hal ini menyebabkan kenaikan suhu.
20.                        Pada awal proses bahan berada pada suhu sekeliling. Pada tahap awal organisme yang ada pada bahan berkembang biak dengan cepat dan suhu naik, pada saat ini semua senyawa amat reaktif seperti gula, tepung dan lemak diuraikan. Ketika suhu mencapai enam puluh derajat selsius jamur berhenti bekerja dan penguraian diteruskan oleh actinomicetes dan galur bakteri pembentuk spora, penguraian menjadi lambat dan suhu puncak tercapai. Ketika bahan kompos sudah melewati suhu puncak, tumpukan mencapai stabilitas dimana bahan yang mudah diubah telah diuraikan dan kebanyakan kebutuhan oksigen yang tinggi telah terpenuhi. Bahan tidak lagi menarik bagi cacing dan lalat serta tidak menimbulkan bau busuk.
21.                        Pada saat pendinginan, jerami dan tangkai membusuk terutama oleh jamur. Hal ini disebabkan begitu suhu turun kurang dari 60 derajat selsius jamur menyerang kembali daerah tumpukan yang lebih dingin dan menyerang senyawa yang kurang reaktif seperti hemiselulosa dan selulosa, menguraikannya menjadi senyawa gula yang lebih sederhana yang tersedia bagi mikroorganisme lain.
22.                        Proses selanjutnya memasuki tahap pematangan dengan jumlah penguraian yang rendah dan panas yang dilepaskan kecil.
23.                        Sebelum pematangan, tumpukan kompos yang dibulak-balik terjadi peningkatan suhu yang timbul dari kerja mikroorganisme yang meningkat.
24.                        Suhu 55-65 derajat selsius dipertahankan selama 3 hari untuk membunuh hapir seluruh gulma dan patogen. Tidak ada bakteri penyakit pada kompos yang dibuat secara sempurna.
25.                        Pengomposan timbul dari kegiatan mikroorganisme, karena itu diharapkan bahwa proses pengomposan akan lebih baik dengan penambahan inokulan dari kultur khusus.

Proses pengomposan (proses pengubahan bahan limbah organik oleh jasad renik secara konstan oleh aktivitas dari suatu suksesi berbagai jenis jasad renik, yang masing-masing memiliki kondisi tertentu dengan waktu yang relatif terbatas)di SMPN 1 Kediri berlangsung di dekat tempat parkir sepeda siswa. Adapun bahan – bahan yang dibutuhkan untuk membuat kompos adalah sebagai berikut         :
-         Daun kering dan daun basah
-         Blothong
-         Sekam
-         Dedhak
-         MOL/ EM4/ tetes tebu/ air ares/ air tape.
Cara pengolahan sampah menjadi kompos  di SMPN 1 KEDIRI dengan menggunakan 7D.
7D, yaitu              :
1.     Dipilah
2.     Dicacah
3.     Ditaburi
4.     Diaduk
5.     Diangin – anginkan
6.     Diayak
7.     Ditanam

Penjelasan dari sistem 7D di atas adalah sebagai berikut        :
Cara pertama yaitu dipilah. Dipilah adalah cara dimana sampah dedaunan  yang ada dipisahkan dengan ranting pohon yang besar.
Cara kedua yaitu dicacah. Melalui tahapan ini, daun – daun yang masih berukuran besar dicacah menggunakan mesin ataupun dicacah secara manual.
Cara ketiga yaitu ditaburi. Di taburi adalah cara pencampuran antara bahan – bahan pembuatan kompos. Makanan dari mikroorganisme pengurai adalah dedhak, sekam, blothong. Perbandingannya 3 : 2 : 1. Sebagai minumannya/ vitaminnya digunakan MOL/ EM4/ Air Ares/ Air Tape/ Air Gula/ Air nanas/ Nasi busuk. Setelah tercampur rata letakan kompos yang belum jadi tersebut kedalam KOMPOSTER dan tutupi atasnya dengan karung goni.
Cara keempat yaitu diaduk. Pengadukan dilakukan 2 kali dalam seminggu.
Cara kelima yaitu diangin – anginkan.
Cara keenam yaitu diayak. Proses pengayakan ini dilakukan untuk memisahkan antara kompos yang sudah halus dan masih kasar.
Cara ketujuh yaitu ditanam. Setelah melalui tahap – tahap yang cukup panjang kompos sudah bisa ditanam/dipergunakan.
2.            MANFAAT
Ø Dari Segi Teknologi Manfaat Pembuatan Kompos Antara Lain :
a.  Teknik pembuatan kompos sangat beragam, mulai dari proses yang mudah dengan menggunakan peralatan yang sederhana sampai dengan proses yang canggih dengan peralatan modern.
b.   Secarateknis, pembuatan kompos dapat dilakukan secara manual sehingga modal yang dibutuhkan relative murah atau secaramasinal (padat modal) untuk mengejar skala produksi yang tinggi.
Ø  Dari segi ekonomi, manfaat pembuatan kompos antara lain
a.  Pengkomposan dapat mengurangi jumlah sampah
b.  Tempat pengumpulan sampah akhir dapat digunakan dalam waktu yang lebih lama, karena sampah yang dikumpulkan berkurang.
c.  Kompos dapat memperbaiki kondisi tanah dan dibutuhkan oleh tanaman.
d.  Penggunaan pupuk anorganik dapat ditekan sehingga dapat meningkatkan efisiensi penggunaannya.
Ø Dari segi lingkungan manfaat pembuatan kompos antara lain
a.   Pengkomposan merupakan metode daur ulang yang alamiah dan mengembalikan bahan organik kedalam siklus biologis.
b.  Mengurangi pencemaran lingkungan, karena sampah yang dibakar, yang dibuang kesungai ataupun yang dikumpulkan di TPA akan berkurang.
c.   Pemakaian kompos pada lahan perkebunan atau pertanian akan meningkatkan kemampuan lahan dalam menahan air sehingga terjadi koservasi air.
Ø Dari segi sosial,manfaat pembuatan kompos antara lain
a.   Dapat membuka lapangan kerja sehingga dapat mengurangi pengangguran.
b.   Dapat dijadikan obyek pembelajaran lingkungan.
Ø Dari segi kesehatan, manfaat pembuatan komposantara lain
a.   Pengurangan tumpukan sampah akan menciptakan lingkungan yang bersih dan sehat.
b.   Proses pengkomposan berjalan pada suhu yang tinggi sehingga dapat mematikan berbagai macam sumber bibit penyakit yang ada pada sampah.
Secara teoritis apabila program daur ulang sampah dengan sistem terpadu dapat dilakukan, maka sampah yang tersisa hanya tinggal 15 – 20% saja, sehingga akan mengurangi ritasi transportasi sampah ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dan umur TPA akan semakin panjang.

Sumur Resapan


SUMUR RESAPAN
1.     PENGERTIAN
Sumur Resapan (Infiltration Well) adalah salah satu rekayasa teknik konservasi air berupa bangunan yang dibuat sedemikian rupa sehingga menyerupai bentuk sumur atau lubang pada permukaan tanah dengan kedalaman tertentu yang dibuat untuk menampung air hujan/aliran permukaan agar dapat meresap ke alam tanah. Kedalaman sumur resapan ini rata-rata mencapai 1,5 meter – 4 meter dengan diameter 10 cm. Di SMP Negeri 1 Kediri, terdapat 19 buah sumur resapan. Sumur resapan itu terbagi atas : 6 buah di selatan masjid, 6 buah di sekitar kelas 7 & kantin, 3 buah di dekat parkiran, 3 buah di depan aula dan 1 buah di samping kanan lab. Biologi. 
2.      Manfaat Pembuatan Sumur Resapan
a.       Cara pembuatan sumur resapan tidak memerlukan teknologi tinggi. Pembuatannya hanya memerlukan bor sederhana yang akan digunakan untuk melubangi tanah sedalam 2 – 3,5 meter setelah itu lubang tersebut ditutup lagi. Dan nanti akan dibuka setelah beberapa bulan.
b.     Menambah jumlah air yang masuk ke dalam tanah. Tambahan air ini sedikit banyak akan dapat mencegah  air hujan dan lainnya.
c.      Mempertahankan tinggi muka air tanah. Saat kemarau datang, diharapkan permukaan air tanah tidak terlalu turun drastis sehingga sumur yang kita miliki masih bisa kita gunakan. Memiliki cadangan air.
d.     Dengan adanya pengaturan aliran air, diharapkan pencemaran air tanah dapat ditekan serendah mungkin.
e.     Sumur resapan mampu menampung dan mengurangi limpasan air saat hujan tiba.
f.      Karena mampu menampung limpasan air, beban / volume air yang masuk ke drainase dapat dikurangi sehingga dapat mencegah terjadinya banjir cileuncang.
g.     Dengan semakin banyaknya air yang masuk ke tanah melalui sumur resapan, pori-pori tanah akan terisi oleh air dan akan mencegah terjadinya penurunan tanah.
h.     Pembuatan sumur resapan juga dapat menarik tenaga kerja dan proyek padat karya melalui program pemberdayaan masyarakat misalnya.
i.      Mengurangi erosi dan sedimentasi.
j.      Mengurangi pencemaran tanah.

Biopori


BIOPORI
1.     PENGERTIAN
Biopori adalah lubang-lubang di dalam tanah yang terbentuk akibat berbagai akitifitas organisma di dalamnya, seperti cacing, perakaran tanaman, rayap dan fauna tanah laiinya. Tapi tak jarang juga dijumpai biopori yang terbuat dari pipa, dan bagian atasnya sengaja dilubangi secara manual (bukan dilubangi oleh organisme dalam tanah). Lubang-lubang yang terbentuk akan terisi udara, dan akan menjadi tempat berlalunya air di dalam tanahBila lubang-lubang seperti ini dapat dibuat dengan jumlah banyak, maka kemampuan dari sebidang tanah untuk meresapkan air akan diharapkan semakin meningkat. Meningkatnya kemampuan tanah dalam meresapkan air akan memperkecil peluang terjadinya aliran air di permukaan tanah. 


Atau dengan perkataan lain akan dapat mengurangi bahaya banjir yang mungkin terjadi. Secara alami kondisi seperti itu dapat dijumpai pada lantai hutan dimana serasah atau bahan organik terumpuk di bagian permukaan tanah. Bahan organik ini selanjutnya menjadi bahan pakan (sumber energi) bagi berbagai fauna tanah untuk melakukan aktifitasnya termasuk membentuk biopori. Pada ekosistem lantai hutan yang baik, sebagian besar air hujan yang jatuh dipermukaannya akan diresapkan kedalam tanah. 

Ekosistem demikian dapat ditiru di lokasi lain dengan membuat lubang vertikal kedalam tanah. Lubang-lubang tersebut selanjutnya diisi bahan organik, seperti sampah-sampah organik rumah tangga, potongan rumput atau vegetasi lainnya, dan sejenisnya. Bahan organik ini kelak akan dijadikan sumber energi bagi organisme di dalam tanah sehinga aktifitas mereka akan meningkat. Dengan meningkatnya aktifitas mereka maka akan semakin banyak biopori yang terbentuk. 

Kesinergisan antara lubang vertikal yang dibuat dengan biopori yang terbentuk akan memungkinkan lubang-lubang ini dimanfaatlkan sebagai lubang peresapan air artifisial yang relatif murah dan ramah lingkungan. Lubang resapan ini selanjutnya di beri julukan LUBANG RESAPAN BIOPORI atau disingkat sebagai LRB.
2.     Keunggulan dan manfaat lubang biopori
Lubang resapan biopori adalah teknologi tepat guna dan ramah lingkungan untuk mengatasi banjir dengan cara (1) meningkatkan daya resapan air, (2) mengubah sampah organik menjadi kompos dan mengurangi emisi gas rumah kaca (CO2 dan metan), dan (3) memanfaatkan peran aktivitas fauna tanah dan akar tanaman, dan mengatasi masalah yang ditimbulkan oleh genangan air seperti penyakit demam berdarah dan malaria.

a.     Meningkatkan Daya Resapan Air 
Kehadiran lubang resapan biopori secara langsung akan menambah bidang resapan air, setidaknya sebesar luas kolom/dinding lubang. Sebagai contoh bila lubang dibuat dengan diameter 10 cm dan dalam 100 cm maka luas bidang resapan akan bertambah sebanyak 3140 cm 2 atau hampir 1/3 m 2. Dengan kata lain suatu permukaan tanah berbentuk lingkaran dengan diamater 10 cm, yang semula mempunyai bidang resapan 78.5 cm 2 setelah dibuat lubang resapan biopori dengan kedalaman 100 cm, luas bidang resapannya menjadi 3218 cm.

Dengan adanya aktivitas fauna tanah pada lubang resapan maka biopori akan terbentuk dan senantiasa terpelihara keberadaannya. Oleh karena itu bidang resapan ini akan selalu terjaga kemampuannya dalam meresapkan air. Dengan demikian kombinasi antara luas bidang resapan dengan kehadiran biopori secara bersama-sama akan meningkatkan kemampuan dalam meresapkan air.
b.     Mengubah Sampah Organik Menjadi Kompos
Lubang resapan biopori "diaktifkan" dengan memberikan sampah organik kedalamnya. Sampah ini akan dijadikan sebagai sumber energi bagi organisme tanah untuk melakukan kegiatannya melalui proses dekomposisi. Sampah yang telah didekompoisi ini dikenal sebagai kompos. Dengan melalui proses seperti itu maka lubang resapan biopori selain berfungsi sebagai bidang peresap air juga sekaligus berfungsi sebagai "pabrik" pembuat kompos. Kompos dapat dipanen pada setiap periode tertentu dan dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik pada berbagai jenis tanaman, seperti tanaman hias, sayuran, dan jenis tanaman lainnya. Bagi mereka yang senang dengan budidaya tanaman/sayuran organik maka kompos dari LRB adalah alternatif yang dapat digunakan sebagai pupuk sayurannya.

c.      Memanfaatkan Fauna Tanah dan atau Akar Tanaman
Seperti disebutkan di atas, Lubang Resapan Biopori diaktikan oleh organisme tanah, khususnya fauna tanah dan perakaran tanaman. Aktivitas merekalah yang selanjutnya akan menciptakan rongga-rongga atau liang-liang di dalam tanah yang akan dijadikan "saluran" air untuk meresap ke dalam tubuh tanah. Dengan memanfaatkan aktivitas mereka maka rongga-rongga atau liang-liang tersebut akan senantiasa terpelihara dan terjaga keberadaannya sehingga kemampuan peresapannya akan tetap terjaga tanpa campur tangan langsung dari manusia untuk pemeliharaannya. Hal ini tentunya akan sangat menghemat tenaga dan biaya. Kewajiban faktor manusia dalam hal ini adalah memberikan pakan kepada mereka berupa sampah organik pada periode tertentu. Sampah organik yang dimasukkan ke dalam lubang akan menjadi humus dan tubuh biota dalam tanah, tidak cepat diemisikan ke atmosfir sebagai gas rumah kaca; berarti mengurangi pemanasan global dan memelihara biodiversitas dalam tanah.

Dengan hadirnya lubang-lubang resapan biopori dapat dicegah adanya genangan air, sehingga berbagai masalah yang diakibatkannya seperti mewabahnya penyakit malaria, demam berdarah dan kaki gajah (filariasis) akan dapat dihindari.
    Ada tiga lokasi yang disarankan untuk penempatan biopori, yaitu pada alas saluran air hujan di sekitar bangunan, lahan kosong, dan di antara tanaman.

Beberapa tahap dalam pembuatan biopori yaitu membuat lubang silindris, perkuat mulut lubang, isi lubang dengan sampah organik, kemudian Kompos yang terbentuk dalam lubang dapat diambil pada setiap akhir musim kemarau bersamaan dengan pemeliharaan lubang resapan.
                 Untuk mempertahankan efisiensi operasional biopori, maka ada beberapa yang harus dilakukan untuk pemeliharaan biopori, yaitu: Lubang Resapan Biopori harus selalu terisi sampah organik

3.     Cara Membuat Lubang Biopori
1.     Buat lubang silindris secara vertikal ke dalam tanah dengan diamter 10 cm. Kedalaman kurang lebih 100 cm atau tidak sampai melampaui muka air tanah bila air tanahnya dangkal. Jarak antar lubang antara 50 - 100 cm
2.     Mulut lubang dapat diperkuat dengan semen selebar 2 - 3 cm dengan tebal 2 cm di sekeliling mulut lubang.
3.     Isi lubang dengan sampah organik yang berasal dari sampah dapur, sisa tanaman, dedaunan, atau pangkasan rumput
4.     Sampah organik perlu selalu ditambahkan ke dalam lubang yang isinya sudah berkurang dan menyusut akibat proses pelapukan.
5.     Kompos yang terbentuk dalam lubang dapat diambil pada setiap akhir musim kemarau bersamaan dengan pemeliharaan lubang resapan.
dekomposisi adalah proses berubahnya sesuatu kedala bentuk atau karakter yang lebih sederhana.
Contoh Dekomposisi - Proses dekomposisi ini dapat dicontohkan pada paroses membusuknya bahan organik pada tumbuhan, misalnya pada proses penguraian suatu materi. Materi organik tersebut mengalami pembusukan sehingga terjadi penguraian kedalam materi-materi lain yang lebih kecil.