PENGOMPOSAN
1.
PENGERTIAN
Kompos merupakan humus yang prosesnya
diperpecat, dengan pengaturan bahan-bahan kompos sehingga kandungan hara yang
dikandung pun lebih tinggi di banding dengan humus. Sedangkan pengomposan itu
sendiri adalah penguraian bahan organik oleh sejumlah besar mikroorganisme
dalam lingkungan yang hangat, basah dan berudara dengan hasil akhir berupa
humus.Keunggulan kompos dibandingkan dengan pupuk kimia adalah kompos yang
tidak merusak tanah, tidak menurunkan pH tanah, dan kompos menggemburkan tanah.
Kandungan haranya menetap pada tanah, tidak terlarut air sehingga dosis
penggunaan pada masa musim penanaman kedepan kemungkinan besar dapat diturunkan
tergantung pada sifat tanah dan pengisapan hara oleh tanaman. Pengapuran pada
tanah hanya pada tanah yang mempunyai pH yang sangat masam, malah pengapuran
tidak diperlukan apabila kadar penggunaan kompos sangat besar. Dikarenakan
sifat kompos yang netral dan cenderung untuk menjadi basa (tergantung bahan
baku yang digunakan), sehingga kompos dapat sangat efektif dalam menetralkan pH
tanahSedangkan kandungan haranya yang lebih rendah dibanding dengan pupuk
kimia, sehingga dosis penggunaannya lebih banyak dibandingkan dengan pupuk
kimia merupakan kelemahan dari pupuk kompos. Akan tetapi hal ini ditanggulangi
dengan murahnya biaya produksi pertanian bila penyuburan lahan dan nutrisi
tanaman menggunakan kompos.
Selama proses pembuatan kompos suhu yang didapat
adalah pada kisaran 55˚C-65˚C, sehingga dapat mematikan gulma dan patogen yang
ada di dalam bahan-bahan kompos. Maka kompos yang selama pembuatannya
menggunakan metode yang benar tidak mengandung gulma dan penyakit pada tanaman.
Kompos menetap dalam tanah tidak terbawa air
dikarenakan sifat kompos yang tidak terlarut dalam air dimana akar-akar tanaman
menyerap hara pada koloid-koloid yang terbentuk selama proses pengomposan.
Sehingga kandungan hara yang terkandung dalam kompos dapat menetap dalam tanah
sampai bertahun-tahun tergantung dari penghisapan hara oleh tanaman.
Tanah bila menggunakan kompos semakin lama akan
semakin gembur, subur dan kaya akan mikroba yang berguna bagi tanah itu
sendiri, faktor kegemburan dan kesuburan tanah merupakan faktor penting dalam
kontinuitas pemakaian lahan, intensifikasi tanaman menjadi baik karena tidak
ada dampak negatif dari penggunaan kompos
Bahan organik alami yang jumlahnya kira-kira sepertiga
dari seluruh bahan organik tumbuh –tumbuhan yang ada di dunia ini akan
membentuk kira-kira 60% dari seluruh bahan apabila di daur ulang. Kalau di
biarkan akan menimbulkan jumlah yang sangat besar. Untuk meningkatkan
produktivitasnya perlu adanya usaha untuk mendaur ulang, salah satu caranya
adalah dengan pengomposan.
Pengomposan adalah proses pengubahan bahan limbah
organik oleh jasad renik secara konstan oleh aktivitas dari suatu suksesi
berbagai jenis jasad renik, yang masing-masing memiliki kondisi tertentu dengan
waktu yang relatif terbatas. Bahan berubah menjadi kompos yang mempunyai
perbandingan C/N yang rendah. Jadi kompos adalah produk hasil fermentasi
bahan-bahan organik oleh sejumlah jasad renik dalam lingkungan yang hangat,
basah dan berudara dengan hasil akhir berupa humus, maka kompos sebagai salah
satu pupuk alam akan merupakan bahan substitusi yang penting terhadap pupuk
kandang dan pupuk hijau. Selain itu pupuk kandang di beberapa daerah, khususnya
di kawasan lahan kering sulit di dapat, karena masih kurangnya petani yang
memelihara ternak. Terlebih lagi adanya kenyataan bahwa penanaman pupuk hijau
semakin langka dan semakin meningkatnya pemakaian pupuk buatan, terutama lahan
yang di usahakan secara intensif, seperti sayur-sayuran dan buah-buahan.
Faktor-faktor yang penting dalam pembuatan kompos
adalah perbandingan karbon-nitrogen, ukuran partikel bahan, macam/jenis
campuran bahan, kelembaban, aerasi, suhu, macam dan kemampuan jasad renik yang
terlibat, penggunaan inokulan, penambahan bahan fosfat dan destruksi dari jasad
renik patogen.
Diketahui ada lebih kurang 2.000 bakteri dan 50 jenis
jamur yang terkait dengan proses pengomposan. Jamur mempunyai peranan yang
sangat penting dalam pemecahan selulosa (bahan organik alami yang paling sulit
di degridasi ) dan di kelompokkan berdasarkan toleransinya terhadap suhu. Ada
kelompok thermophilik (40 – 75 0C), mesophilik (20 - 40 0C) dan ada juga yang
termasuk dalam kelompok psychrophilik (dibawah 20 0C). Adanya jasad renik
perombak selulosa berkaitan erat dengan keberadaan bahan organik alami yang
sulit didegradasi di alam. Dengan demikian jasad renik perombak ini merupakan
salah satu faktor keseimbangan di alam dan mempunyai kontribusi dalam
kelanjutan kehidupan dibumi ini.
Pengujian kapang selulotik di laboratorium dilakukan
dengan maksud untuk mengetahui kemampuan masing-masing kapang dalam merombak
selulosa, sehingga isolat-isolat murni dapat dipisahkan dan dipilah-pilahkan
sesuai dengan tingkat kemampuannya, sehingga akan di dapat inokulan yang
mengandung jenis jasad renik yang mempunyai toleransi optimal terhadap
perubahan lingkungan seperti tersebut di atas.
Seperti diketahui penambahan inokulan pada pembuatan
kompos adalah bagian dari usaha untuk mempercepat proses pengomposan, karena
sesungguhnya pada bahan material pembentuk kompos sendiri sudah mengandung
banyak jasad renik khususnya yang berperan dalam perombakan zat kimia lainnya.
Salah satu cara untuk mendapatkan kompos secara tepat
adalah dengan menggunakan aktivator berupa inokulan kapang unggul yang berperan
memecah selulosa dalam proses pembuatan kompos, agar waktu pembuatan kompos
lebih di perpendek.
Proses pembuatan komposnya sendiri harus berpegang
pada sistem kerjasama beberapa mikroba yang mempunyai sifat-sifat fisiologis
yang beragam dalam suatu tatanan tertentu.
Kegunaan kompos sendiri yaitu :
1. sebagai penyubur di
lahan pertanian atau perkebunan
2. dapat memperbaiki
struktur tekstur tanah
3. memberikan kandungan
unsur hara yang diperlukan tanaman.
4. dapat digunakan dalam
usaha reklamasi lahan bekas galian tambang, atau penyubur di daerah rawa-rawa,
peningkatan kadar pH di daerah lahan asam.
Seperti diketahui di daerah tropik kandungan bahan
organik di dalam tanah diperkirakan hanya 1% saja. Di lahan yang di tanami,
kandungan organik lahan tersebut semakin lama semakin berkurang karena terjadi
biodegradasi secara terus menerus. Untuk mengatasinya paling tidak setahun
sekali lahan tersebut perlu diberi tambahan bahan organik seperti kompos.
Aktivitas mikrobiologi dalam tanah terjadi bukan saja
oleh jasad renik yang tumbuh dan berkembang dalam kompos tetapi kehadirannya
dapat menstimulir jasad renik yang telah ada dalam tanah. Pemberian kompos
dapat menstimulir aktivitas amonifikasi, nitrifikasi, fiksasi nitrogen dan
fosforilasasi, yang disebabkan oleh kerja berbagai jasad renik dalam tanah.
Oleh karena itu, selain berguna dalam penyuburan tanah
khususnya di lahan kering, juga dapat mengurangi penggunaan pupuk anorganik
bagi para petani yang harganya relatif mahal.
1. B. KOMPOS
KEUNGGULAN DAN KELEMAHANNYA
Keunggulan Kompos
1. 1. Kompos Tidak
Larut Dalam Air
Dampak positif dari karakter ini adalah antara lain
terhadap effisiensi penggunaan kompos pada lahan pertanaman. Seperti diketahui
kelarutan pupuk anorganik maupun organik yang berbentuk kotoran ternak sangat
tinggi. Setiap tanaman disiram atau tersiram air hujan atau banjir, maka hara
yang terkandung dalam tanah akan berkurang atau bahkan habis tergerus air,
sehingga perlu pemupukan ulang. Padahal kompos selalu ada di sekitar tanaman,
karena tidak larut.
1. 2. Kompos Menahan
Air Sampai 60%
Kandungan air pada kompos akan menimbulkan dampak
positif seperti berikut : Karena kompos tidak lain adalah humus, maka lahan
yang mengandung kompos akan menahan air sampai sebanyak 60%, sehingga tanaman
masih dapat menggunakannya sampai musim kemarau.
1. 3. Kompos Dapat
Membentuk Tekstur dan Struktur Tanah Yang Kondusif Bagi Pertumbuhan Tanaman.
Tekstur tanah akan menjadi lembut dan gembur, tidak
padat dan tidak akan menjadi belah-belah pada musim kemarau seperti terjadi
pada lahan yang dipupuk dengan pupuk anorganik. Struktur tanah akan tertata
dengan baik seiring dengan keluar masuknya unsur hara ke dalam tanah.
1. 4. Kandungan Hara
Kompos Dapat Disesuaikan Dengan Kebutuhan.
Karena kandungan hara pada kompos terbentuk dari bahan
dasar pembuatan kompos, maka pengaturannya dapat dilakukan pada awal pembuatan
kompos. Penggunaan berbagai jenis bahan limbah yang mengandung berbagai jenis
bahan lumbah yang mengandung berbagai kandungan hara dapat diformulasikan untuk
kepentingan tanah yang akan kita pupuk.
1. 5. Kompos Bebas
Dari Sumber Penyakit.
Karena pembuatan kompos dilakukan dengan berbagai
jenis mikroba yang bekerja secara suksesi karena pengaruh perubahan energi
panas dan pH. Terjadi perubahan suhu dan pH secara alami selama proses
pengomposan, maka kompos terbentuk secara sempurna oleh kerja berbagai mikroba
tersebut. Terbebasnya kompos dari penyakit, karena suatu saat tumpukan kompos
akan mencapai suhu 60-70ºC. Seperti diketahui semua mikroba penyakit tidak
tahan pada suhu diatas 60ºC.
1. 6. Kompos Merupakan
Bahan Dasar Bagi Pakan Ternak Atau Pakan Ikan.
Konsep “longyam” (kolam dibawah kandang ayam) yang
memanfaatkan kotoran ayam untuk pakan ikan akan terbebas dari penyakit kalau
kotoran ayamnya sudah menjadi kompos. Kompos akan menjadi subsitusi bagi pakan
ternak karena kandungannya dapat diformulasikan.
1. 7. Kompos Sebagai
Media Pertumbuhan Plankton.
Pertumbuhan plankton akan dipercepat dengan kehadiran
kompos. Ini akan membantu para peternak ikan, baik kolam maupun tambak.
1. 8. Kompos Dapat
Dijadikan Sumber Pendapatan Petani.
Apabila limbah pertanian dan peternakan dapat
mencukupi kebutuhan petani untuk usaha pertanian, maka limbah lain dapat
dijadikan kompos untuk dijual. Limbah rumah tangga, limbah pabrik, limbah
industri dsb yang terbuan percuma merupakan bahan baku industri pertanian dan
dapat dijadikan sumber penghasilan.
1. 9. Kompos Sebagai
Bahan Industri Pot dan Media Tumbuh Anggrek.
Pot yang terbuat dari kompos dan lepengan kompos
pengganti kayu pakis untuk media tumbuh anggrek merupakan suatu industri baru
dan dapat menghasilkan uang. Pot yang berfungsi sebagai pupuk sangatlah menarik
bagi mereka yang bergerak di bidang perbungaan, hotikultura dan pembibitan.
10. Kompos Sebagai Media Tanam Di
Tanah Berpasir dan Bebatuan.
Hamparan kompos setebal 5-10 cm dapat dijadikan tanah
gersang bebatuan, berpasir, bekas galian, lahan marginal dsb, menjadi lahan
hijau sepanjang tahun.
11. Kompos Sebagai Embung Air.
Terdapatnya sumber mata air jernih di pegunungan,
akibat dari masih tersedianya humus di hutan pegunungan. Embung yang ditutupi
kompos dan ditumbuhi tanaman akan menyimpan air yang banyak, baik pada
komposnya sendiri maupun akar tumbuhan yang berada di sekitar kompos.
12. Kompos Dapat Mencegah Erosi.
Di lahan yang konturnya miring penggunaan kompos
selain akan menahan air juga mencegah erosi, banjir dan longsor yang
berkepanjangan.
13. Kompos Sebagai Pengganti Irigasi.
Pada kondisi tropis-kering, air merupakan faktor
pembatas untuk pertumbuhan tanaman. Dalam kondisi ini ada dua pilihan
pemanfaatan air, dapat digunakan untuk irigasi atau untuk pembuatan kompos.
Produksi 1.000 Kg kompos memerlukan air sebanyak 2.500
liter. Apabila lahan diberi kompos 25 ton/ha, maka akan memerlukan air sebanyak
62.500 liter setra dengan irigasi 6,25 mm
Dari analisis dapat dinyatakan bahwa pembuatan kompos
25 ton/ha lebih bermanfaat dibanding dengan jika digunakannya irigasi.
14. Kompos Dapat Dibuat Dari Semua
Bahan Organik.
Limbah organik rumah tangga berupa : Kulit sayur,
kulit buah, kulit telur, daun the, bubuk kopi, potongan ikan, daging, kertas,
abu dsb. Limbah organik kebun, tanaman, limbah ternak, limbah hutan, sungai,
laut limbah perkotaan, agro industri.
15. Industri Kompos Yang Dapat
Menyerap Tenaga Kerja.
Kompos yang dikembangkan oleh PBB tahun 1967 di India,
Vietnam, Cina dan Korea khusus untuk pedesaan dapat menyerap tenaga kerja.
Pembuatan kompos secara modern dapat dilakukan dengan kombinasi sistem pedesaan
dan ditambah dengan mekanisasi pada proses-proses lainnya. Penggunaan mesin atau
komputer pada proses degradasi mikroba akan berpengaruh pada suksesi mikroba
oleh pengaruh perubahan suhu dan pH pada kondisi aerobik. Masih banyak lahan
yang belum terdegradasi paa akhir masa pengomposan walaupun sudah menggunakan
komputer untuk menjalankannya.
Kelemahan Kompos
Volume yang besar menyebabkan besarnya daya angkut,
kelemahan ini dapat diatas dengan mengurangi kandungan air dalam kompos sampai
dibawah 5 persen. Industri kompos dapat menggunakan kompos dengan kandungan air
yang sedikit dan dapat dibuat dalam bentuk tablet atau pelet.
Ciri-Ciri Kompos
1. 1. Kompos matang.
1. Tidak berbau
2. Berwarna coklat
kehitam-hitaman.
3. Tidak larut dalam air,
karena kompos berbentuk koloid.
1. 2. Test Kematangan
Kompos.
1. Sediakan air bersih
dalam suatu wadah yang transparan.
2. Masukan sedikit kompos
kedalamnya dan dikocok merata.
3. Biarkan beberapa saat.
Apabila dalam beberapa menit air dalam gelas jernih
kembali, maka kompos tersebut sudah matang. Apabila tetap keruh, maka kompos
belum terbentuk, terhadap kompos ini diperlukan perlakuan ulang.
1. RINGKASAN MENGENAI
KOMPOS DAN PENGOMPOSAN.
1. Pengomposan : penguraian
bahan organik oleh sejumlah besar mikroorganisme dalam lingkungan yang hangat,
basah dan berudara dengan hasil akhir berupa humus.
2. Mikroorganisme : anggota
paling kecil dan paling sederhana dari dunia tanaman dan hewan
3. Mikroorganisme mengambil
air dan oksigen dari udara dan makanan dari bahan organik ® melepaskan karbon
dioksida, air dan energi ® berkembang biak ® mati.
Sebagian energi yang dilepaskan tersebut, digunakan
untuk pertumbuhan dan gerakan, sisanya dibebaskan sebagai panas. Akibatnya
setumpuk bahan kompos melewati tahap-tahap penghangatan, suhu puncak,
pendinginan dan pematangan.
1. Bahan limbah biasanya
mengandung mikroorganisme yang mampu melakukan proses pengomposan.
2. Selain oksigen dari
udara dan air, mikroorganisme memerlukan pasokan makanan yang mengandung karbon
dan unsur hara seperti nitrogen, fosfor dan kalium untuk pertumbuhan dan
reproduksi. Kebutuhan ini tersedia dalam bahan limbah.
3. Penguraian bahan organik
pada saat pengomposan merupakan situasi yang terus berubah, suhu, pH dan
ketersediaan makanan yang bervariasi.
4. Pada saat pengomposan
spesies organisme dan jumlahnya juga berubah.
5. Faktor-faktor yang
penting dalam pembuatan kompos adalah ukuran partikel bahan, perbandingan C/N,
kelembaban, aerasi, suhu, macam atau jenis campuran bahan, macam dan kemampuan
jasad renik yang terlibat.
6. Semakin kecil ukuran
partikel bahan organik, semakin besar pula luas permukaan yang tersedia untuk
dikerjakan oleh mikroorganisme. Partikel yang amat kecil mengumpul dengan ketat
sehingga ruang antara partikel menjadi kecil dan sempit, ini mencegah gerakan
udara kedalam tumpukan kompos dan gerakan karbondioksida keluar tumpukan.
7. Jika ukuran partikel
amat besar, luas permukaan untuk operasi amat kurang, reaksi kemudian akan
berjalan lambat atau bahkan terhenti sama sekali.
8. Nitrogen merupakan unsur
hara yang paling penting, jika tersedia cukup nitrogen dalam bahan organik
awal, kebanyakan unsur hara yang lainnya akan tersedia pula dalam jumlah yang
cukup.
9. Perbandingan C/N dalam
campuran pertama berkisar antara 25 – 35. Jika perbandingan jauh lebih tinggi,
prosesnya akan memakan waktu yang lama sebelum karbon dioksidasi menjadi
karbondioksida. Jika lebih kecil nitrogen yang merupakan komponen penting dari
kompos akhir akan dibebaskan sebagai amonia.
10.
Cara yang paling sederhana untuk menyesuaikan perbandingan C/N adalah
dengan mencampur berbagai bahan dengan kadar nitrogen tinggi dan karbon rendah.
11.
Nitrogen juga dapat ditambahkan dalam bentuk pupuk organik (makanan,
tulang, tanduk, kuku, ampas minyak dan darah kering) atau pupuk anorganik (urea
dan amonium nitrat).
12.
Fosfor merupakan unsur hara yang kurang penting dalam pengompoasan, tapi
kadang sengaja ditambahkan. Hilangnya nitrogen sebagai amonia dari tumpukan
kompos dapat dikurangi sebagian dengan penambahan bahan yang mengandung fosfor.
Fosfat batu diubah dari bentuk tidak larut air menjadi bentuk yang lebih dapat
digunakan untuk tanaman.
13.
Untuk memaksimalkan kandungan unsur hara dari kompos yang dihasilkan
diperlukan pengurangan peluruhan berat dari tumpukan dengan melindunginya dari
hujan deras dan kepenuhan air.
14.
Pada kandungan air dibawah 30%, reaksi biologis dalam tumpukan kompos
menjadi lambat. Pada kadar air yang terlalu tinggi ruang antara partikel dari
bahan menjadi penuh air sehingga mencegah gerakan udara dalam tumpukan.
15.
Kandunga air optimum dari bahan kompos adalah 50 – 60%, tergantung dari
kekuatan basah struktural bahan.
16.
Jumlah udara yang cukup kesemua bagian tumpukan kompos diperlukan untuk
memasok oksigen pada organisme dan mengeluarkan karbondioksida yang dihasilkan.
17.
Tidak adanya udara (anaerobik) akan menimbulkan perkembangbiakan berbagai
macam organisme yang menyebabkan pengawetan keasaman atau pembusukan tumpukan
yang menimbulkan bau busuk.
18.
Aerasi diperoleh melalui gerakan alami dari udara ke tumpukan dengan
membolak-balikan bahan secara berkala.
19.
Ketika bahan organik dikumpulkan menjadi satu untuk pengomposan sebagian
energi yang dilepaskan oleh penguraian bahan dibebaskan sebagai panas, hal ini
menyebabkan kenaikan suhu.
20.
Pada awal proses bahan berada pada suhu sekeliling. Pada tahap awal
organisme yang ada pada bahan berkembang biak dengan cepat dan suhu naik, pada
saat ini semua senyawa amat reaktif seperti gula, tepung dan lemak diuraikan.
Ketika suhu mencapai enam puluh derajat selsius jamur berhenti bekerja dan
penguraian diteruskan oleh actinomicetes dan galur bakteri pembentuk spora,
penguraian menjadi lambat dan suhu puncak tercapai. Ketika bahan kompos sudah
melewati suhu puncak, tumpukan mencapai stabilitas dimana bahan yang mudah
diubah telah diuraikan dan kebanyakan kebutuhan oksigen yang tinggi telah
terpenuhi. Bahan tidak lagi menarik bagi cacing dan lalat serta tidak
menimbulkan bau busuk.
21.
Pada saat pendinginan, jerami dan tangkai membusuk terutama oleh jamur. Hal
ini disebabkan begitu suhu turun kurang dari 60 derajat selsius jamur menyerang
kembali daerah tumpukan yang lebih dingin dan menyerang senyawa yang kurang
reaktif seperti hemiselulosa dan selulosa, menguraikannya menjadi senyawa gula
yang lebih sederhana yang tersedia bagi mikroorganisme lain.
22.
Proses selanjutnya memasuki tahap pematangan dengan jumlah penguraian yang
rendah dan panas yang dilepaskan kecil.
23.
Sebelum pematangan, tumpukan kompos yang dibulak-balik terjadi peningkatan
suhu yang timbul dari kerja mikroorganisme yang meningkat.
24.
Suhu 55-65 derajat selsius dipertahankan selama 3 hari untuk membunuh hapir
seluruh gulma dan patogen. Tidak ada bakteri penyakit pada kompos yang dibuat
secara sempurna.
25.
Pengomposan timbul dari kegiatan mikroorganisme, karena itu diharapkan
bahwa proses pengomposan akan lebih baik dengan penambahan inokulan dari kultur
khusus.
Proses pengomposan (proses pengubahan bahan
limbah organik oleh jasad renik secara konstan oleh aktivitas dari suatu
suksesi berbagai jenis jasad renik, yang masing-masing memiliki kondisi
tertentu dengan waktu yang relatif terbatas)di SMPN 1 Kediri berlangsung di dekat
tempat parkir sepeda siswa. Adapun bahan – bahan yang dibutuhkan untuk membuat
kompos adalah sebagai berikut :
-
Daun
kering dan daun basah
-
Blothong
-
Sekam
-
Dedhak
-
MOL/
EM4/ tetes tebu/ air ares/ air tape.
Cara pengolahan
sampah menjadi kompos di SMPN 1 KEDIRI
dengan menggunakan 7D.
7D, yaitu :
|
1.
Dipilah
2.
Dicacah
3.
Ditaburi
4.
Diaduk
|
5.
Diangin – anginkan
6.
Diayak
7.
Ditanam
|
Penjelasan dari
sistem 7D di atas adalah sebagai berikut :
Cara pertama
yaitu dipilah. Dipilah adalah cara dimana sampah dedaunan yang ada dipisahkan dengan ranting pohon yang
besar.
Cara kedua yaitu
dicacah. Melalui tahapan ini, daun – daun yang masih berukuran besar
dicacah menggunakan mesin ataupun dicacah secara manual.
Cara ketiga
yaitu ditaburi. Di taburi adalah cara pencampuran antara bahan – bahan
pembuatan kompos. Makanan dari mikroorganisme pengurai adalah dedhak, sekam,
blothong. Perbandingannya 3 : 2 : 1. Sebagai minumannya/ vitaminnya digunakan
MOL/ EM4/ Air Ares/ Air Tape/ Air Gula/ Air nanas/ Nasi busuk. Setelah
tercampur rata letakan kompos yang belum jadi tersebut kedalam KOMPOSTER dan
tutupi atasnya dengan karung goni.
Cara keempat
yaitu diaduk. Pengadukan dilakukan 2 kali dalam seminggu.
Cara kelima
yaitu diangin – anginkan.
Cara keenam
yaitu diayak. Proses pengayakan ini dilakukan untuk memisahkan antara
kompos yang sudah halus dan masih kasar.
Cara ketujuh
yaitu ditanam. Setelah melalui tahap – tahap yang cukup panjang kompos
sudah bisa ditanam/dipergunakan.
2.
MANFAAT
Ø Dari Segi Teknologi Manfaat
Pembuatan Kompos Antara Lain :
a. Teknik
pembuatan kompos sangat beragam, mulai dari proses yang mudah dengan
menggunakan peralatan yang sederhana sampai dengan proses yang canggih dengan
peralatan modern.
b. Secarateknis,
pembuatan kompos dapat dilakukan secara manual sehingga modal yang dibutuhkan
relative murah atau secaramasinal (padat modal) untuk mengejar skala produksi
yang tinggi.
Ø Dari segi ekonomi, manfaat pembuatan kompos
antara lain
a. Pengkomposan
dapat mengurangi jumlah sampah
b. Tempat
pengumpulan sampah akhir dapat digunakan dalam waktu yang lebih lama, karena
sampah yang dikumpulkan berkurang.
c. Kompos
dapat memperbaiki kondisi tanah dan dibutuhkan oleh tanaman.
d. Penggunaan
pupuk anorganik dapat ditekan sehingga dapat meningkatkan efisiensi
penggunaannya.
Ø Dari segi lingkungan manfaat
pembuatan kompos antara lain
a.
Pengkomposan merupakan metode daur ulang yang alamiah dan mengembalikan bahan
organik kedalam siklus biologis.
b. Mengurangi
pencemaran lingkungan, karena sampah yang dibakar, yang dibuang kesungai
ataupun yang dikumpulkan di TPA akan berkurang.
c. Pemakaian
kompos pada lahan perkebunan atau pertanian akan meningkatkan kemampuan lahan
dalam menahan air sehingga terjadi koservasi air.
Ø Dari segi sosial,manfaat
pembuatan kompos antara lain
a. Dapat membuka lapangan kerja sehingga dapat mengurangi
pengangguran.
b. Dapat
dijadikan obyek pembelajaran lingkungan.
Ø Dari segi kesehatan, manfaat pembuatan komposantara lain
a. Pengurangan
tumpukan sampah akan menciptakan lingkungan yang bersih dan sehat.
b. Proses
pengkomposan berjalan pada suhu yang tinggi sehingga dapat mematikan berbagai
macam sumber bibit penyakit yang ada pada sampah.
Secara teoritis apabila program daur ulang sampah
dengan sistem terpadu dapat dilakukan, maka sampah yang tersisa hanya tinggal
15 – 20% saja, sehingga akan mengurangi ritasi transportasi sampah ke Tempat
Pembuangan Akhir (TPA) dan umur TPA akan semakin panjang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar